Sesulit inikah ?
Matahari terbenam, langit mulai menapakkan gelap. bintang, bulan pun akan ikut menampakkan ke atas sana.
Aku terdiam..
Aku memikirkannya..
Ada apa dengan kehidupanku ? ada apa dengan ku ?
Pemikiranku mulai berantakan, bagiku mungkin ini sedikit meresahkanku. Entah, apa ini tentang cinta, teman atau yang lainnya.
Dia..
Mungkin ini berhubungan dengannya. Ini sedikit menyangkut tentangnya. Aku memikirkannya, aku menyendiri di atas atap rumahku ini. Mungkin ini karena aku yang terlalu di tuntut jika ingin melakukan beberapa banyak hal, aku terlalu di paksa untuk melakukan sesuatu hal yang menurutku itu sudah lebih dari tidak sewajarnya. Mungkin bisa juga di katakan aku ini tidak sedikit berbeda dengan seekor burung yang selalu berada dalam sangkarnya. Inginnya keluar dari sangkar itu dan inginnya berterbangan dengan bebas dan bisa menyapa semua kawan-kawannya, tidak hanya berada di dalam sangkar ini. Inginnya lepas dari cengkraman ini.
Hhhhmm...
Keadaan itu tidak jauh beda dengan keadaan ku saat ini. Aku ingin bebas dari cengkramannya, aku ingin seperti kawan-kawanku dan aku ingin dia tau, aku tak pernah menginginkan keadaan ini. Keadaan dimana aku tak mampu menerimanya. Lelah sudah yang aku fikirkan. Langit semakin gelap, alarm ku berdering. Ini menunjukkan aku harus membaringkan tubuh ini dan memejamkan kedua kelopak mata ini. (Membaringkan tubuh dan memejamkan kedua kelopak mata ini dan tertidur pulas).
Suara adzan terdengar, tibalah saatnya melakukan kewajibanku. Segeralah ku buka kedua kelopak mata ini, ku bangkitkan diri dan ku berjalan menuju sebuah ruangan (kamar mandi). Ku gerakkan sepasang tangan ini untuk segera mengambil air wudhu.
Ku luangkan waktu ku untuk beribadah dan berdo’a. “YaAllah, aku datang bersujud dihadapan-Mu, aku tak mampu jika menghadapi kenyataan ini sendirian. Aku merindukan sosok sahabat yang bisa menemaniku disaat kondisiku seperti ini. Ya Allah, sucikan hati ini, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencana-Mu dalam hidup ku”ujarku saat berdo’a.
Waktu terus berjalan, hari demi hari yang ada aku hanya memikirkannya.
Lagi-lagi tangisku kembali pecah. Harapan ku kali ini aku tak ingin jika hari-hari ku selalu memikirkannya perilakunya terhadapku. Tak ada yang ku banggakan dengan keadaan yang seperti ini. Mustahil bila aku pergi dari keadaan ini.
Aku ini terlalu bodoh atau bagaimana ? kenapa mesti aku harus menuruti semua keinginannya, semua perintahnya, ada apa dengan jalan fikiran ku ? Menurutku melakukan hal seperti ini adalah mimpi buruk ku.
Jarum jam terus berjalan dan sampai saat ini aku masih saja mengikuti semua permainannya.
Sahabat ?
Aku butuh sosok seorang sahabat, aku ingin semua masalah-masalah ku ini ku ceritakan dan ku ambil saran-sarannya.
Aaaaahhhh... sampai saat ini saja aku tak pernah mempunyai sosok sahabat. Mungkin karena aku sosok seorang pemalu. Aku malu bila ingin bergabung dengan teman yang lain. Bergabung ? jangankan bergabung, berbicara pun saja aku malu. Entahlah, aku tak mengerti dengan semua ini.
Sampai kapan aku seperti ini, apa mungkin sampai matahari tak terbit lagi ? atau bulan dan bintang tak bersinar lagi ?
Langit mulai menapakkan gelap, sepertinya sore ini akan turun hujan lagi. Andai Tuhan izinkan aku hanya ingin satu permintaan, tolong jangan turunkan hujan sore ini aku hanya ingin berbaring di atas atap rumah sambil di temani oleh selembar kertas dan pena ku.
Hening...
Akupun terlelap dalam angan, dan bayangan. Percaya atau tidak, sejauh dan sesulit apapun kehidupanku, sepahit atau semanis apapun kehidupanku, aku tetap menjalaninya dengan hati yang tulus ikhlas menerima. Skenario tuhan mungkin saja begitu, dan aku tak patut menyesalinya :)
Salam : Kartika Pratiwi
