Aku terhenyak, kaget bukan kepalang. Sunyi pikiranku mulai berantakan dan kini aku merasa begitu muak, ah.. sungguh sesuatu diluar dugaan.
Aku seperti orang bodoh tidak tau apa yang harus ku perbuat, hanya ada 2 pilihan yaitu berhenti atau melanjutkan?
Akupun tidak tau bagaimana cara untuk mengatasi masalah seperti itu, masalah yang membuatku merasa lebih jatuh dari masalah yang pernah ku hadapi lalu dan masalahku tidak jauh dari pengkhianatan. Dimana aku sudah mencintainya, dan menerima kekurangan serta kelebihannya.
Sakit, tentu ini jauh lebih dari sakit. Ia masih kekasihku tapi ia mencoba membaginya dengan yang lain.
Ya.
Seperti itu masalahku.
Seperti ada orang ketiga yang merusak keindahanku, merusak senyumku, merusak keceriaanku, dan bahkan merusak hubunganku.
Kepercayaanku dibuat semata biasa olehnya.
Menurutku ini kesalahan yang benar fatal dan yang pertama aku alami.
Ia menjelaskan.
Campur aduk perasaanku.
Apa yang salah denganku ?
Siapa yang harus ku percaya ?
Aku terdiam, aku mengalah, aku mencoba memberinya kesempatan dan kali ini yang terakhir.
Ku pikir ini memang jalan tuhan agar aku tau dimana letak kesalahannya dan agar aku mengerti bagaimana cara memaafkan dengan penuh keikhlasan.
Ku rasa itu tidak mudah.
Bagiku kesalahannya itu hanya karna leluconnya dan cara berfikir yang kekanakkan.
Jelas.
Sangat kekanakannya dan lebih kekanakkann lagi jika ku balas semuanya dengan pengkhianatan yang ciptakan lalu. Tapi bagiku itu tidak akan pernah ku balas dengan pengkhianatan yang ia beri untukku.
Saat itulah aku menyadari, betapa serba membingungkan untuk berfikir dititik mana, dibongkahan mana aku harus memulai memperbaiki apa yang sudah hancur, betapa banyak yang harus ku benahi, apa karna kurangnya perhatianku? Kurangnya kasih sayangku? Atau, kurangnya kepeduliaanku terhadapnya?
Aku tidak tau, benar tidak tau, apakah ini masih bisa diluruskan atau tetap begini?
Aku ingin memulai hidup baru, aku tau jalan tidak selamanya mulus dan aku akan siap bila sesekali waktu aku tidak siap menghadiri hari – hari burukku.
Lagi.
Ia memberi omongan padaku.
“Aku tak sempurna, kenapa kamu memilihku”
“Tak ada yang sempurna dalam hidup ini, kesempurnaan hanya milik Tuhan”
“Kamu akan rugi kelak”
“Hidup bukan persoalan untung atau ruginya, kamu akan kalah pada dunia bila berfikir seperti itu. Hidup itu persoalan berarti atau tidak diri kita, dan kamu begitu berarti bagiku”
Apakah kita tidak boleh memiliki cinta ?
Apakah kita tidak boleh mencintai seseorang yang sangat kita cinta ?
Aku terdiam dan aku teringat akan matanya yang sangat tajam. Itu adalah mata cintanya padaku dan aku selalu lemah jika memandangnya.
Mungkinkah ini cinta ?
Seperti kali ia memarahiku, aku justru berfikir, seperti inilah seharusnya ia mengingatkan ku, tentu aku akan lebih paham dengan seni kecemburuanku.
Hm.. kenapa aku jadi terbakar cemburu seperti ini ?
“Tak ada satupun yang patut kamu cemburui, kecuali satu”
“Siapa”
“Tuhanku, karena cintaku lebih besar padanya. Karena aku sering dibuat tak berdaya olehnya. Karenanya aku cinta padamu, karenanya pula kelakku meninggalkanmu”
Menurutku itu benar dan ku pikir, cemburu itu baik tapi tidak baik bila berlebihan. Satu – satunya peganganku adalah kesabaran dan aku akan terus bertahan hingga kesabaranku melemah dengan sendirinya.
Salam : Kartika Putri Nda
