Siang yang terik di hari yang lain lagi. sambil menggorteskan pensilku di atas kertas putih.
Aku membuka mata perlahan-lahan, menikmati sinar matahari yang menyinari wajahku. ku menatap awan-awan yang berbentuk seperti gulali dan aku berfikir begitu kecilnya aku bila aku berada di atas sana.
Lalu ku beranjak masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci motor yang ingin sekali aku cuci. namun, bermalas-malas itu aku, aku sudah tidak tertarik lagi untuk mencuci motor.
"Hhhhmm..." bersandar disofa, memejamkan mata sejenak dan melupakan sebentar masalah-masalah mendatangi ku di hari yang lalu. tarikan nafas panjang dan udara membersihkan paru-paruku membuat ku merasa ketenangan yang telah lama hilang dari hidupku.
Mendengar burung-burung itu bersiul rendah mengangkat pikiranku ke awan. saat ini segala masalahku seakan pergi jauh, yang ada hanya aku.
Saat ini aku mengerti kenapa orang tua ku begitu menyukai sofa ini. angan-angan ku melayang jauh.. melayang.. jauh.. jauh..
Sampai...
Aku tepat berdiri di gerbang mimpi...
Lalu terdengar nada dering handphone ku yang sengaja aku pasang lagu yang di bawakan oleh band ungu "I NEED YOU". aku membuka mata sekejap dan langsung terlonjak duduk. aku menatap ponsel ku sambil membatin.
Aku gak kenal nomor ini. pesan dari siapa ini ?
"Hai" sapa seseorang yang paling ingin ku hindari.
Aku pun berfikir, mungkinkah dia ? namun ternyata bukan.
"Huh..." rasaku yang penuh rasa jengkel.
.
Kemudian aku langsung mematikan hp cross yang masih ku genggam saat ini. aku menggigit bibir yang menengah kelangit dari sofa yang berada di ruang tamu.
Langit yang begitu biru menatapku seakan berkata "jangan menangis" langit tersenyum cerah seakan menghibur ku. aku tersenyum pahit, mengasihani diri. akhirnya aku merasakan cairan hangat mengusap lembut dipipi ku.
Aku terkejut ketika cairan itu telah tumpah dari mataku, sekuat apapun aku berusaha ternyata masih ada kesedihan di dalam diriku yang tak bisa ku bendung lagi.
Sekeras apapun usaha ku, aku tetap saja gagal. aku memeluk diri sendiri, dan menangis sendirian.
Aku tak berharap ada yang melihatku, tapi aku berharap ada orang yang menolongku, aku berharap ada yang mau mengertiku. aku hanya ingin masalahku selesai.
Aku menghapus air mata ku, dan keluar dari ruang tamu pikiran ku yang melankolis membuatku cengeng. padahal dulu aku tak seperti ini.
.
Seandainya aku bisa menatap langit dari kamarku pasti lebih menyenangkan tapi semua itu tidak mungkin hanya atap yang menghalangi ku.
Karena tidak bisa melihat, aku hanya membayangkannya awan-awan indah seperti kapas itu bergerak ringan di kepalaku.
Langit biru selalu menyejukkan hati, sesuatu yang ku suka dari langit adalah dimana pun aku berada, ia akan setia menemaniku tak peduli aku melangkahkan kaki kemana diriku mau atau bahkan ke luar angkasa, langit tetap setia menemaniku. selalu seperti itu setiap hari tak pernah berubah hanya mengikuti alam, seperti aku mengikuti emosiku.
.
Aku tersenyum ceria seperti langit yang cerah saat semua masalah menghilang difikiran ku untuk sesaat. baik aku maupun langit menangis saat tak bisa membendung beratnya badan kami lagi. aku juga menciptakan karya tulis paling indah saat sedih karena aku mencurahkan semua perasaanku, seperti langit menampakkan pelangi paling indah setelah ia menangis dan setelah saat-saat menyedihkan aku akan tersenyum lagi. seperti matahari yang selalu tersenyum setiap harinya menghadapi pagi baru yang indah.
Seperti malam, aku terlihat gelap dari satu sisi. tapi disisi gelapku, aku mempunyai perasaan yang dalam setiap bulan, yang selalu menerangi kegelapan :)