Itulah sebait syair lagu yang kudengar dari radio butut rumahku.Mengaluni siang ini dalam alunan irama radio yang slalu temani hari-hari sebelum matahari terbenam.Sesegera mungkin ku matikan radio itu, karna panggilan Allah telah datang di siang ini dari mushala tua tepi muara kurang lebih tidak jauh dari rumahku.Ku percepat langkah agar butir-butir amal dalam sholatku tak terganggu oleh hiruk pikuknya dunia.
Rasanya tangisku mau pecah membayangkan cerita dulu.
Ouh, rasanya haru mulai menyergapku.
Rindu mulai menjadi peluru keseharianku.
Tak mungkin aku tak menangis !
Rasa ini terus membara di hatiku.
Tak mungkin dihapuskan begitu saja.
Tidak, tidak mungkin !
Lalu.
Apa yang memang harus aku lakukan ?
Melihatnya kembali ?
Memeluknya hingga tak akan ku lepas lagi ?
Itu tidak mungkin.
Atau, dengan cara melihat album kesederhaanku (foto) ?
Ya, mungkin inilah cara terbaik agar peluru rinduku hilang satu persatu sedemikian.Rasanya tangisku mau pecah membayangkan cerita dulu.Ouh, rasanya haru mulai menyergapku.Rindu mulai menjadi peluru keseharianku.Tak mungkin aku tak menangis !Rasa ini terus membara di hatiku.Tak mungkin dihapuskan begitu saja.Tidak, tidak mungkin !Lalu.Apa yang memang harus aku lakukan ?Melihatnya kembali ?Memeluknya hingga tak akan ku lepas lagi ?Itu tidak mungkin.Atau, dengan cara melihat album kesederhaanku (foto) ?Ya, mungkin inilah cara terbaik agar peluru rinduku hilang satu persatu sedemikian.Rasanya tangisku mau pecah membayangkan cerita dulu.Ouh, rasanya haru mulai menyergapku.Rindu mulai menjadi peluru keseharianku.Tak mungkin aku tak menangis !Rasa ini terus membara di hatiku.Tak mungkin dihapuskan begitu saja.Tidak, tidak mungkin !Lalu.Apa yang memang harus aku lakukan ?Melihatnya kembali ?Memeluknya hingga tak akan ku lepas lagi ?Itu tidak mungkin.Atau, dengan cara melihat album kesederhaanku (foto) ?Ya, mungkin inilah cara terbaik agar peluru rinduku hilang satu persatu sedemikian.
-kartika putri Nda-
