Batin..


Kalau ada pilihan, aku akan ikut bersamanya terbang jauh disana. Disana, menemani kesedihannya, canda tawanya, hingga memeluk dan memberi saran kepadanya. Tetapi itu tidaklah menjadi kenyataan. Khayalan ? iya, itu hanya khayalan. Khayalan yang tak akan jadi kenyataan.
Tetesan itu, tetesan yang menghujan begitu saja membasahi wajahku ketika perasaanku tak seperti biasanya. Ini tetntu aneh, ada apa dengannya? Kenapa dengan kondisinya sekarang? Bahagiakah? Ceriakah? Atau sedihkah? Yang jelas itu hanya ada pada otak ku yang penuh tanda tanya...
“bebanku bertambah...” jawabnya.
Beban apalagi tuhan yang kau beri untuknya? Jangan beri beban yang terlalu berat untuknya. Kapan senyum indah itu muncul memperhatikanku kembali? Senyum yang selalu ada untukku.. bagiku senyumnya lebih manis dari madu tapi masih adakah waktu lagi agar mataku dapat memperhatikan senyumannya hingga keceriaannya?
Sudah,, cukup tuhan jangan beri dia kesedihan lagi disana. Aku tak mau melihatnya seperti ini.... “aku tak mau merencanakan apa-apa lagi, biar Allah yang menentukan” ujarnya..
Seperti ada ribuan peluru yang menghujam tempurungku, dan disetiap peluru itu adalah rindu. Rinduku pada senyumnya, canda tawanya, cerewetnya, marahnya, hingga ketika BM itu kambuh.. aku mengenalnya seperti seseorang yang memiliki mata begitu indah. Membuatku ingin menjadi bagian darinya, adek? Kakak? Ataupun sahabat yang amat ia sayang? Aku ingin masuk kedalam mata yang mungkin penuh dengan bunga atau taman anggrek yang mempesona.
Dia seakan seperti ular yang tak berbisa dan enak dimata. Tapi mata itu jauh dari mataku, jauh dari pandanganku.. bukan dengan matanya aku lebih bisa mencontoh ketegarannya tetapi dengan senyumnya pula yang membuat ku tau seberapa besarnya menerima kenyataan ini. Aku tau setiap waktupun matanya melahirkan air yang terpendam dalam hati dan batinnya tapi inilah kehidupan NYATA, FAKTA penuh MASALAH, penuh PILIHAN. Tinggal JATI DIRI KITA yang akan MEMILIH KEHIDUPAN ....


Salam : Kartika Putri Nda