.bantal ; 21.09..



tiba-tiba terseret arus kembali pada fase hidup yg ku anggap sebagai musim hujan..

Basah..
banyak air..
kucoba membenamkan wajahku pada nyamannya benda penopang kepala ketika aku terlelap..
aku bercerita kepadanya tanpa kata,hanya melalui isakan tertahan,melalui bahasa air mata..
setiap kali aku berharap jawaban,ia hanya diam,mencoba menyerap air mataku mungkin itulah caranya utk memahamiku..

setiap kali merasa terluka,yg ku pikirkan hanya benda itu..
meski tak jarang aku meninggalkannya sendirian di ruangan segi empat ini..

malam ini,aku hanya ingin bermesraan dengan benda itu..
mencoba mengajarinya bahasa-bahasaku,agar saat ku butuhkan jawaban ia akan berkata-kata..
namun,tetap,ia diam,bisu..
aku mulai menangis lagi,menyesali,kenapa ia tak bisa membalas pembicaraanku..

seringkali ia terlihat sangat basah karena terlalu banyaknya air yg aku keluarkan..
namun ia tak mengeluh,ia tak menuduhku berpura-pura,ia tak menyalahkanku,ia tak menghakimiku,ia hanya diam mencoba memahamiku meski hanya sikap diam yg selalu ia tunjukkan..

ia selalu menjadi saksi malam-malam terberat yg aku lewati..
menjadi kawan saat semua manusia berpaling..
menjadi sahabat saat aku menelan beberapa butir benda bulat..

ia selalu begitu..
diam..
bisu..
tak bergerak..

..Tri ayu..